TIMES TANGERANG, TASIKMALAYA – Kabut pagi perlahan terangkat dari lereng Gunung Galunggung, d iantara pepohonan pinus yang menjulang dan tanah vulkanik yang lembap, suara langkah kaki berpadu dengan tarikan napas yang ritmis.
Tidak ada deru kendaraan, tidak ada klakson kota, yang terdengar hanya alam dan manusia yang berusaha menaklukkannya dengan kesadaran penuh.
Di jalur inilah, beberapa tahun terakhir, trail run menemukan rumah barunya di wilayah Tasikmalaya. Olahraga lari lintas alam ini tidak datang dengan gegap gempita. Ia tumbuh perlahan, mengikuti irama alam dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Namun kini, trail run bukan lagi sekadar hobi segelintir orang, namun menjelma menjadi tren olahraga, gaya hidup, sekaligus instrumen baru penggerak pariwisata daerah.
Warga Kota Tasikmalaya Galih Rakasiswi (39), trail run bukan sekadar olahraga, menurutnya olahraga ini menjadi ruang dialog antara tubuh dan alam.
Sejak 2019, warga Kota Tasikmalaya yang dipercaya sebagai Pengurus KONI bidang Bina Prestasi ini konsisten menekuni olahraga alam bebas meninggalkan aspal, memilih tanah, tanjakan, dan jalur liar yang tak selalu ramah.
“Trail run itu jujur. Alam tidak pernah berbohong. Kalau kita lengah, kita jatuh. Kalau kita memaksa, tubuh akan memberi tanda,” ujar Galih kepada TIMES Indonesia. Rabu (14/1/2025).
Menurut Galih, trail run merupakan lari yang dilakukan di jalur alami seperti hutan, pegunungan, bukit, dan medan tanah. Namun dalam praktiknya, olahraga ini menuntut lebih dari sekadar kekuatan kaki. Ia menguji fokus, teknik, mental, dan kesabaran.
Galih menambahkan trail running berbeda dengan lari di jalan aspal yang relatif datar dan stabil, trail run menghadirkan elevasi naik-turun, permukaan licin, serta jalur sempit yang menyerupai pendakian gunung. Setiap kilometer memiliki cerita. Setiap tanjakan mengajarkan kerendahan hati.
Di antara banyak pilihan jalur trail di Jawa Barat, Gunung Galunggung menempati posisi istimewa. Gunung yang pernah mengukir sejarah besar lewat letusannya ini kini dikenal sebagai salah satu jalur trail run paling diminati, tidak hanya oleh pelari lokal, tetapi juga dari Bandung, Jabodetabek, hingga luar provinsi.
“Galunggung itu paket lengkap. Medannya menantang, pemandangannya luar biasa, dan aksesnya cukup bersahabat. Makanya banyak pelari luar kota datang ke sini,” kata Galih.
Beberapa pelari saat menaiki tangga biru di Objek Wisata Gunung Galunggung, Rabu (14/1/2026) (FOTO: Galih/TIMES Indonesia)
Karakter Unik di Jalur Berliku
Tanah vulkanik Galunggung menawarkan karakter unik. Jalurnya berliku, kadang terbuka, kadang tertutup kanopi hutan. Dari beberapa titik, pelari disuguhi panorama hijau yang luas, udara sejuk, dan rasa sunyi yang sulit ditemukan di kota.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Gunung Galunggung berkembang sebagai destinasi sport tourism konsep wisata yang menggabungkan aktivitas olahraga dengan pengalaman rekreasi.
“Biasanya pelari datang sambil membawa keluarga. Setelah lari, mereka bisa wisata air panas, menikmati alam, disana ada tangga biru dan kuning akses menuju kawah yang sering dijadikan spot selfi juga ada wisata offroad. Jadi semua kebagian pengalaman,” tutur Galih.
Fenomena ini menciptakan ekosistem baru, para pelari datang dari berbagai kota bersama keluarga untuk berwisata, sehingga UMKM bergerak, penginapan terisi. Olahraga tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi pintu masuk ekonomi lokal.
Potensi besar inilah yang kemudian direspons oleh manajemen Horison Tasikmalaya dengan menghadirkan ajang Horison Trail Run Galunggung Tasikmalaya 2026, yang akan digelar pada 8 Februari 2026 di kawasan Gunung Galunggung.
Kawah Gunung Galunggung, foto diambil dari atas bibir kawah Rabu (14/1/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Pamerkan Potensi Tasikmalaya
Event ini tidak dirancang sebagai lomba semata, tetapi diposisikan sebagai etalase Tasikmalaya, mempertemukan olahraga, alam, dan promosi daerah dalam satu pengalaman utuh.
Dua kategori lomba disiapkan untuk menjangkau spektrum peserta yang luas, 7 KM Race, dengan elevation gain 383 meter, menjadi arena adu ketahanan dan teknik, sedangkan 5 KM Fun Run, dengan elevation gain 261 meter, menawarkan pengalaman berlari yang lebih santai dan inklusif.
Sedangkan kategori Fun Run diberlakukan cut off time (COT) 2 jam 30 menit, memastikan aspek keselamatan tetap menjadi prioritas.
General Manager Horison Tasikmalaya, Riatalia Setyohardono, menyebut event ini sebagai bentuk komitmen industri perhotelan dalam mendukung pembangunan pariwisata berbasis pengalaman.
“Horison Trail Run Galunggung Tasikmalaya 2026 kami hadirkan bukan hanya untuk olahraga, tetapi untuk memperkenalkan keindahan alam Tasikmalaya kepada peserta dari berbagai daerah. Ini adalah upaya memperluas awareness Tasikmalaya sebagai destinasi wisata,” ujarnya.
Menurut Riatalia, sport tourism memiliki keunggulan karena menghadirkan wisatawan dengan durasi tinggal lebih panjang dan keterlibatan emosional yang lebih kuat terhadap destinasi.
Antusiasme yang Menjadi Sinyal
Respons publik terhadap event ini terbilang tinggi. Tiket Early Bird telah terjual habis, dan pendaftaran kini memasuki tahap Presale 1.
Peserta datang dari berbagai latar belakang pelari kompetitif, komunitas lari, hingga pecinta alam. Sebagai bagian dari standar keselamatan, pengambilan race pack dijadwalkan pada 5-7 Februari 2026 di Horison Tasikmalaya.
Setiap peserta wajib membawa surat keterangan sehat yang masih berlaku, menegaskan komitmen penyelenggara terhadap keselamatan dan profesionalisme event.
Sementara itu Ketua Pelaksana Horison Trail Run Galunggung Tasikmalaya 2026, Harry Sultan Adha, berharap ajang ini dapat menjadi tonggak baru.
“Kami ingin event ini berjalan aman, lancar, dan memberi kesan mendalam. Harapannya, Horison Trail Run Galunggung bisa menjadi agenda tahunan yang dibanggakan Tasikmalaya,” katanya.
Seluruh informasi teknis lomba, pembaruan acara, serta ketentuan Do & Don’ts disampaikan melalui akun Instagram resmi @horison.tasikmalaya.
Trail run mungkin dimulai dari jejak kaki di tanah. Namun dampaknya bisa menjalar lebih jauh ke pariwisata, ekonomi lokal, hingga identitas daerah.
"Jadi nanti di Gunung Galunggung, lari bukan lagi tentang mengejar waktu, namun tentang perjalanan, juga tentang napas yang menyatu dengan alam. Tentang Tasikmalaya yang perlahan menegaskan dirinya sebagai rumah bagi olahraga, wisata, dan pengalaman yang autentik." pungkasnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Horison Trail Run Galunggung 2026, Angkat Sport Tourism di Tasikmalaya
| Pewarta | : Harniwan Obech |
| Editor | : Ronny Wicaksono |