TIMES TANGERANG, TANGERANG – Lanskap ekonomi global sedang mengalami pergeseran besar. Dua istilah kembali mengemuka dalam percakapan industri dunia: reshoring dan nearshoring. Keduanya merepresentasikan arah baru strategi produksi global kembalinya aktivitas manufaktur ke negara asal, atau pemindahan ke wilayah yang lebih dekat secara geografis.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam diskusi strategis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang, di mana Dekan Dr. H. Endang Ruhiyat menegaskan pentingnya membaca ulang arah industrialisasi baru pascapandemi COVID-19, disrupsi rantai pasok, serta ketegangan geopolitik yang menekan efisiensi global.
Di balik hiruk-pikuk strategi korporasi dan kebijakan industri, apakah generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z di dunia akademik, siap menghadapi gelombang baru industrialisasi ini?
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara maju mulai memindahkan kembali pabrik dan pusat produksinya mendekati pasar utama. Amerika Serikat, misalnya, agresif menjalankan reshoring di sektor semikonduktor dan otomotif. Jepang dan Korea Selatan menata ulang rantai pasok agar tak lagi terlalu bergantung pada China. Sementara itu, negara seperti Meksiko, Vietnam, dan Malaysia menjadi magnet baru bagi investor yang mencari efisiensi logistik melalui nearshoring.
Indonesia sejatinya memiliki posisi strategis dalam peta tersebut. Dengan tenaga kerja muda, letak geografis di jantung Asia Pasifik, serta infrastruktur industri yang terus tumbuh, negeri ini berpotensi menjadi episentrum baru rantai pasok regional. Tetapi potensi itu tak akan bermakna jika sumber daya manusianya, terutama Gen Z, belum siap bertransformasi menjadi penggerak ekonomi baru.
Gen Z kini mendominasi hampir 28% populasi Indonesia. Mereka lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital, terbiasa berpikir cepat, kolaboratif, dan kritis terhadap informasi.
Dunia kerja pasca-reshoring menuntut lebih dari sekadar kemampuan digital. Dibutuhkan literasi rantai pasok global, pemahaman geopolitik industri, serta kemampuan berpikir sistemik lintas budaya.
Generasi ini sebenarnya memiliki peluang menjadi the next strategic workforce bukan hanya pekerja, tetapi juga inovator dan pencipta lapangan kerja baru di sektor industri kreatif, teknologi, dan manufaktur cerdas.
Tantangannya adalah bagaimana dunia akademik mampu mengarahkan potensi besar ini agar tidak hanya berhenti pada keunggulan digital, melainkan tumbuh menjadi kekuatan produktif yang siap bersaing di arena global.
Kurikulum perguruan tinggi Indonesia perlu melampaui batas teori manajemen klasik. Transformasi dunia industri menuntut lahirnya kompetensi baru: analis rantai pasok regional, manajer keberlanjutan, spesialis data industri, hingga konsultan strategi lintas negara.
Di sinilah peran dosen dan akademisi menjadi krusial menggeser pola pengajaran dari konseptual menjadi kontekstual, menghadirkan studi kasus nyata dari perusahaan yang tengah menata ulang strategi produksinya.
Kampus harus berfungsi sebagai laboratorium kesiapan industri. Mata kuliah seperti manajemen operasi dan bisnis internasional seyogianya mulai mengintegrasikan isu-isu strategis seperti geopolitik ekonomi, regionalisasi pasokan, dan keberlanjutan industri.
Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu menganalisis keputusan perusahaan global yang melakukan reposisi manufaktur dan dampaknya terhadap pasar tenaga kerja nasional.
Selain itu, kolaborasi akademik–industri perlu diperkuat. Program magang, riset bersama, serta kuliah tamu dari praktisi industri adalah jembatan antara teori dan realitas.
Kampus yang membuka ruang perjumpaan langsung antara mahasiswa dan pelaku industri akan melahirkan pemahaman yang lebih kontekstual tentang perubahan struktur ekonomi global.
Tak kalah penting, penguatan soft skill menjadi pondasi daya saing global. Kemampuan bahasa, negosiasi lintas budaya, kepemimpinan digital, serta global mindset harus ditanamkan sejak dini. Dunia reshoring–nearshoring bukan hanya bicara soal produksi, tetapi juga tentang membangun jejaring antarbangsa yang dilandasi pemahaman lintas nilai dan kepentingan.
Dalam konteks ini, peran dosen berubah dari sekadar pengajar menjadi navigator perubahan. Akademisi harus mampu membaca tren dunia dan menerjemahkannya menjadi pembelajaran yang relevan.
Mahasiswa perlu didorong menjadi problem solver, bukan sekadar pencari kerja. Kesiapan Gen Z menghadapi dunia industri baru tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga oleh keberanian berpikir lintas batas dan kemampuan menjadikan teknologi sebagai medium inovasi.
Era reshoring dan nearshoring adalah momentum kebangkitan ekonomi regional. Jika Indonesia mampu menyiapkan generasi muda dengan keterampilan global dan kurikulum adaptif, maka perguruan tinggi akan menjadi motor utama transformasi industri nasional.
Generasi Z adalah aset strategis bangsa. Dengan bimbingan akademisi yang visioner, mereka tak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu menjadi arsitek masa depan ekonomi Indonesia mandiri, berdaya saing, dan berpengaruh di peta industri dunia.
Dunia sedang menata ulang rantai produksinya. Tugas kampus kita adalah memastikan bahwa anak muda Indonesia tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam babak baru ekonomi global ini. (*)
***
*) Oleh : Anah Furyanah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Gen Z Akademik dan Tantangan Reshoring–Nearshoring
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |